Ulasan Buku : Belajar Mencintai

By Nanda Destiyani - Maret 30, 2019




Bismillahirrahmanirrahim..

Alhamdulillah, suatu kehormatan yang amat besar bisa dapat kesempatan menjadi lima orang pembaca pertama buku dari salah satu penulis favorit saya, a Azhar Nurun Ala di bukunya yang ke-9 ini. Beberapa hari yang lalu, a Azhar  memposting sebuah feeds di Instagramnya bahwa ia sedang mencari 5 orang yang bersedia menjadi pembaca pertama bukunya untuk diulas. Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung mengajukan diri dengan sedikit harapan ajuan saya mungkin tidak akan diterima, istilahnya tidak mau berharap lebih lah, karena berharap lebih ujungnya pasti mengecewakan haha jadi curhat. Berharap lebih boleh, tapi hanya kepada Allah saja. Dan tanpa disangka, a Azhar dm saya menawarkan untuk menjadi lima orang pembaca pertama bukunya, Maa Syaa Allaah, Alhamdulillaah :")

Dibalik indahnya dapat tawaran ini, ada hal yang dianggap jahat bagi a Azhar. Tapi menurut saya, itu tidak jahat, melainkan : menantang. Dan saya suka! 

Dua hari kemudian, buku itu mendarat dengan selamat. Saya langsung unboxing, setelah itu membacanya. Memakan waktu dua hari untuk menyelesaikan bacaan buku ini, hehe karena tidak sabar untuk mengulasnya. Btw, ini adalah kali ketiga saya mengulas karya a Azhar, pertama Novel Tuhan Maha Romantis, kedua Mahar Untuk Maharani, dan ketiga Belajar Mencintai. Berikut adalah ulasannya;


Judul Buku : Belajar Mencintai
Penulis : Azhar Nurun Ala
Penerbit : Azharologia Books
Cetakan pertama : April 2019

Buku ini bercerita tentang memoar kehidupan pernikahan a Azhar, yang dikemas secara Real Life. Ada saja bagian yang membuat saya bergumam "oh begini ya", "ih sama banget kaya aku", "haha suami banget nih kaya gini". Benar-benar alami disetiap babnya.

Adalah a Azhar dan teh Vidia, sepasang suami-istri yang menurutku sempurna. Bagaimana tidak? mereka ini dari sebelum menikah adalah dua orang yang saling menjaga. Kisah perjuangan cinta mereka dari sebelum menikah pun direkam di novel Cinta Adalah Perlawanan. Saya dibuat kagum oleh kisah cinta mereka berdua. Di buku ini dikupas tuntas cerita mereka dari awal ta'aruf, menikah, sampai mempunyai si kecil Muhammad Salman Nurun Ala. Kala itu, saya ikut berbahagia atas kelahiran si kecil Salman, seperti ikut merasakan bahagianya mereka juga. Barakallah ya teh Vidia dan a Azhar :') semoga bahagia selalu, aamiin.

Buku ini terdiri dari sepuluh bab, satu diantaranya ditulis oleh teh Vidia. Romantis bukan? menulis buku bersama, semoga kelak saya dan suami pun bisa mengikuti jejak a Azhar dan teh Vidia hehe. Masing-masing bab menceritakan momen-momen paling berkesan selama 5 tahun pernikahan a Azhar dan teh Vidia. Jadi ingat apa yang diucapkan kakak kandung saya sehari sebelum hari pernikahan saya tiba, "da, pokoknya nanti luasin sabar ya.. pernikahan itu banyaaak banget cobaannya demi untuk naik kelas, apalagi di tahun ke-5, a banyak denger-denger dari cerita orang sih di tahun ke-5 bakal lebih banyak lagi cobaannya". Namun, jika dari awal niat untuk menikah adalah karena Allah, ingin menghidupkan rumah tangga yang berasaskan sunnah Rasulullah, Insya Allah segala cobaan pun akan dilewati bersama dengan sabar dan saling menguatkan. Kekuatan, kejujuran, dan keikhlasan yang menjadi sifat tunjang kita.

Karena buku ini saya menjadi tahu satu hal, bahwa hubungan yang berniat untuk diakhiri karena alasan "berbeda" adalah hanya omong kosong belaka. Bukannya dari awal juga sudah berbeda? Bahwasanya laki-laki dan perempuan memang diciptakan berbeda secara fisik pun sifatnya.

Belajar dari teh Vidia, yang tak pernah menuntut suami, tak pernah mematahkan keyakinan dan mimpi suami, juga tak pernah menyepelekan berbagai ikhtiar suami membahagiakan keluarga kecilnya. Teh Vidia selalu punya cara untuk tidak berlebihan menghadapi setiap masalah yang muncul dalam rumah tangga. Dewasa sekali, patut dicontoh untuk kita para istri, khususnya saya sendiri. "Berkata baik atau diam", sepertinya memang teh Vidia jago sekali dalam mengamalkan hadist tersebut, barakallah teh.

Dari sepuluh bab, ada dua bab yang menjadi pilihan bab terfavorit bagi saya. Di bab Jatuh Cinta vs Mencintai dan Kepergian-kepergian di Bulan Juli. Mengapa ? alasannya di bab Jatuh Cinta vs Mencintai, saya menjadi tahu bahwa Jatuh Cinta dan Mencintai adalah dua hal yang berbeda, jelas sebelumnya saya belum tahu hal itu.

"Dulu, ketika jatuh cinta kepada seorang perempuan yang kemudian menjadi istriku, segalanya terasa indah. Tiba-tiba saja dunia jadi penuh bunga. Setiap bertemmu dengannya, di kantin, di jalan atau di lorong kampus, ada luapan kebahagiaan yang luar biasa"
(Belajar Mencintai, bab Jatuh Cinta vs Mencintai, hal. 22)

Menurut a azhar, jatuh cinta itu memang indah tetapi harus diingat bahwa pada ujungnya ia akan menuntut sentuhan fisik. Ketika hasrat itu tidak sampai, yang tersisa adalah penderitaan. Barangkali karena hal itu, Rasulullah pernah bersabda, "Tak ada yang lebih baik bagi dua orang yang saling jatuh cinta selain pernikahan". Lagi-lagi di novel kali ini dikemas dengan nuansa religi, gimana saya tidak selalu suka dengan karya a Azhar, kalau disetiap karyanya selalu diselipkan hadist atau ayat qur'an yang secara otomatis menjadi nasihat diri untuk diri saya sendiri khususnya.

Sedangkan mencintai, adalah sebuah pekerjaan besar, sangat besar. Ia tentu saja tak sesederhana mengucapkan "Aku mencintaimu", begitu kata a Azhar. Mencintai itu adalah komitmen saya ingin tumbuh bersamanya, kemudian merawatnya, agar cinta itu bisa bersemi dengan indah dan perasaan mencintai itu pun Insya Allah akan membawa ke jannah.

Alasan mengapa saya suka di bab Kepergian-kepergian di bulan Juli adalah singkatnya a Azhar berhasil membuat air mata saya tumpah ruah!

"ini kisah tentang seseorang yang sangat aku cintai, ini kisah tentang seseorang yang ucapannya lembut, tatapannya teduh. Ini kisah tentang seseorang yang setiap nasihatnya selalu menggetarkan hati. Ini kisah tentang ia yang darahnya mengalir di dalam nadiku. Ini kisah tentang ia yang telah kembali ke pelukan Pemiliknya" (Belajar Mencintai, bab Kepergian-kepergian di Bulan Juli, hal 117)

Buku ini cocok untukmu yang sedang mempersiapkan diri menyambut seseorang yang akan menemani hari-hari, untukmu yang pernah terluka, dan sangat cocok untukmu yang sedang membina rumah tangga.

"Pasti ada seseorang di sana, yang hatimu bergetar kala menatapnya dan tersipu saat kamu memujinya. Ia yang tak rela membiarkan sebelah tanganmu menepuk-nepuk di udara. Ia menyambut sebelah tanganmu dengan tepukan, lalu terdengarlah suara cinta" (Belajar Mencintai, Azhar Nurun Ala)

ah, a Azhar. aku bosan! lagi-lagi dibuat jatuh cinta oleh karyamu. sukses terus ya, a! Semoga terus melahirkan karya-karya bermanfaat lainnya, salam untukmu dan keluarga dari saya yang selalu jatuh cinta oleh setiap karya mu. Barakallaah..

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar