#MyBirthingStory Melahirkan Normal dan Nyaman

By Nanda Destiyani - Maret 17, 2020





bismillaah..
melahirkan di usia kandungan 38-39 week, menurutku cukup lama(meski kata orang-orang masih normal kalau anak pertama) karena disaat ada teman-teman yang hamilnya berbarengan, tapi ternyata aku yang melahirkan belakangan. Sempat dilanda rasa galau, kenapa anakku tidak kunjung lahir juga. satu kalimat yang cukup menghibur keluar dari mulut mamah “setiap anak sudah diatur kapan ia keluar nan, jadi sabar ya..”

Sabtu, 08 Februari 2020.
maksud hati ingin menghibur diri karena belum juga lahiran, jadi memutuskan untuk jalan keluar sama mamah. Niat hati juga ingin perbanyak jalan kaki di mall, iya di mall hehe karena kalau di mall suka tidak kerasa tau-tau sudah lama jalan kakinya. Sekitar jam 15.30 aku ngerasa ingin buang air kecil, pas ngecek ternyata ada keluar flek darah! sempat merasa GR “jangan-jangan lahiran pas tanggal anniversary 09-02-2020 lagi” ternyata Allah belum izinin anakku lahir di tanggal itu hehe

Minggu, 09 Februari 2020
Anniversary yang ke 1 tahun, merasa bersykur udah ada di tahap ini. Satu tahun suka & duka dilewati sama suami. bersyukur punya suami yang pengertian dan sabar. Selalu berusaha untuk bahagiain istrinya. Meski ada rasa sedih sedikit karena belum lahiran juga, tapi suami berusaha untuk ngehibur istrinya ini. Malamnya, diajak makan sama ayah mertua. Entah kebetulan atau enggak ayah bilang gini “kita bekelin dulu buat neng biar besok kuat ngejan” sontak semua keluarga ketawa mendengar ayah yang keceplosan bilang kaya gitu.


Senin, 10 Februari 2020.
dini hari, 02.30 WITA. aku terbangun karena merasa perut dan pinggang bawah sudah mulai terasa sakit. “wah udah mulai kontraksi nih kayanya”, batinku. Berusaha (sok) tenang, sambil mempraktekkan teknik pernapasan dari sesi yoga yang aku ikuti selama hamil. Rasa nyeri berkurang, tapi kontraksi masih saja berlanjut. Saya cek aplikasi “Contraction” masih berjarak 10menit sekali, “masih lama”, batinku. Karena masih merasa sanggup menahan rasa sakit, jadi aku memutuskan untuk tidak membangunkan suami. Selang beberapa jam, sekitar jam 4 rasa sakit sudah semakin sering langsung aku membangunkan suami. Suami pun langsung bergegas mengajak ke bidan, kataku kayanya masih bisa ditahan rasa sakitnya. Tapi karena mamah yang khawatir aku kenapa-kenapa, jadi berangkat saat itu juga mengingat jarak dari rumah ke bidan itu lumayan jauh. Sesampainya di rumah bidan, dicek pembukaan, ternyata masih pembukaan 1. Benar dugaanku, karena rasa sakitnya masih bisa ditahan. Jadi aku dan suami memutuskan untuk pergi dulu ke rumah nenek yang jaraknya tidak jauh dari rumah bidan. Rasa sakit semakin terasa dan semakin sering saat di rumah nenek, alhamdulillahnya kakak bidan ngasih birthing ball untuk dibawa ke rumah nenek supaya mempercepat proses pembukaan. 
Sekitar jam 11.00 Wita aku dan suami kembali lagi ke bidan, karena rasa sakit yang sudah semakin tidak bisa ditahan. Kalau kata orang Banjarmasin sini sih, karena aku “darah kijang” darah duluan yg keluar jadi rasa sakitnya lebih sakit dari pada orang yang mau melahirkan keluar air ketuban dulu. Jadi kebayang lah ya seperti apa rasanya 😂
Sesampainya di bidan, dicek pembukaan lagi, baru pembukaan 3. “kenapa udah sakit banget ya Allah kira udah pembukaan 9😂”, dalam hati haha. Selama menunggu pembukaan lengkap, aku duduk dibirthing ball, tidak lupa untuk selalu dzikir dan tetap atur nafas agar rasa sakitnya sedikit berkurang.


Sekitar Jam 14.00 wita, dicek lagi sudah pembukaan 7! waah sebentar laagi. orang-orang disekitarku tak ada hentinya memberi semangat, terutama mamah dan suami tetap setia ada disamping. Ditambah bidan-bidan kesayangku yang super duper perhatian (bidan Haida dan bidan Rukma) yang kasih aku susu, elus-elus punggung, kasih semangat dan hal nyaman lainnya. Pokoknya bersyukur banget bisa berjodoh untuk melahirkan di bidan Haida ini. Selain bidannya yang super sabar, aku juga bersyukur karena beliau-beliau sefrekuensi sama pemikiranku hehe

Semakin lama merasa kok ya makin panas ini duduk di birthing ball, sudah mulai ngerasa ingin ngejan, pas berdiri ternyata ketubanku sudah pecah. langsung lah para bidan-bidan mempersiapkan proses kelahiranku. Alhamdulillah hanya 2-3 kali mengejan anakku lahir di pukul 14.50! Muhammad Arzan Imansyah lahir ke dunia. Alhamdulillaah, Arzan adalah kado anniversary yang ke 1 tahun dari Allah untuk ayah dan ibun, walau beda sehari hehe ❤


Terimakasih alhamdulillah Allah mengabulkan do’a hambanya ini untuk lahiran normal.
Terimakasih untuk suami tersayang yang selalu mendampingi dari hamil sampai proses melahirkan, ternyata dia gak ngeri lihat darah haha (anak PMR, wkwkwk).
Terimakasih untuk mamah yang terus kasih semangat ke nanda, ga tau deh kaya apa kalau mamah ga ikut dampingi nanda.
Terimakasih juga untuk bidan Haida, bidan Rukma, dan 3 bidan yang gak aku tau namanya. Terimakasih sudah menciptakan proses lahiran yang nyaman, dan tidak meninggalkan rasa trauma.

oia, suamiku juga bercerita tentang anniversary dan cerita lahirnya Arzan, dibaca yaa❤
klik di sini!

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar