Ulasan Novel Dwilogi ; TUHAN MAHA ROMANTIS By Azhar Nurun Ala

By Nanda Destiyani - Maret 17, 2016

ULASAN BUKU
Judul buku : Tuhan Maha Romantis
Penulis : Azhar Nurun Ala
Penyunting : Abdullah Ibnu Ahmad
Penerbit : Azharologia
Tahun Terbit : 2014

TUHAN MAHA ROMANTIS
"Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia"

Novel ini menceritakan seorang Rijal, pemuda yang lahir dari keluarga guru yang sangat memperhatikan nilai-nilai agama. Rijal tinggal di Bandar Harapan, Lampung. Rijal adalah anak satu-satunya di keluarga tersebut yang sempat berberat hati karena harus meninggalkan Ayah dan Ibunya demi menuntut ilmu di ibu kota. Menjadi mahasiswa sastra di Universitas Indonesia, mungkin menumbuhkan rasa bangga namun juga merajut perasaan cemas dan sedih karena harus berpisah dengan dua orang yang sangat dicintainya itu. Namun, demi mewujudkan cita-citanya pula, ia harus pergi, ia harus membuat orang tuanya bangga dan tak menyesal menyekolahkannya di jurusan Sastra.

"Inikah rasanya menggenggam mimpi yang dulu kurasa terlalu tinggi bahkan untuk sekadar kusentuh tepinya saja? Inikah rasanya menunaikan sebuah janji pada diri sendiri sementara semua orang takut berjanji? Inikah rasanya membuat bangga orang tua?"
Begitulah kiranya perasaan bahagia dari Rijal ketika berhasil menembus jurusan Sastra UI.

Di kampus perjuangan itulah, kisah cintanya dimulai. Seorang wanita muslimah bernama Laras telah menawan hatinya. Perempuan yang ia sebut Perempuan Senja. Laras adalah senior satu jurusan dengannya yang saat itu juga menjadi salah satu panitia ospek. Cantik, cerdas, berpendirian, muslimah taat, humoris, itulah penggambaran seorang Laras di novel tersebut. Sementara Rijal, seorang mahasiswa baru yang puitis, pemalu, namun tak kalah alim dan humoris. Dalam kehidupannya di UI, Rijal sering sekali dipertemukan dengan Laras, membuat hatinya semakin tertawan. Namun, ia tetap menyimpan gejolak jiwanya itu. Cinta tumbuh dalam hatinya, tapi tak juga terkembang menjadi kata. Kerinduannya pada Laras diekspresikannya dalam doa. Rijal tahu yang harus dilakukannya, menunggu, hingga saatnya tepat, ia akan melamar Kak Laras, pujaan hatinya.

"Mencintai itu, bukan cuma soal rasa suka atau ketertarikan. Bukan cuma soal kekaguman. Lebih dari itu, mencintai itu sebuah keputusan. Keputusan besar."

Ternyata keduanya memiliki rasa yang sama, namun Rijal telah membuat tekad yang kuat. Ia tak akan mendekati Laras lagi. Ia akan langsung melamarnya ketika Laras sudah diwisuda. Ketika momen itu datang, ketika Rijal sudah mantap ingin mempersunting Laras, sebuah kejadian besar terjadi. Hambatan itu muncul. Laras tiba-tiba hilang tanpa kabar. Disini, Rijal benar-benar putus asa.

Setelah lima tahun tak lagi ada kabar tentang Laras, Rijal memutuskan untuk menerima tawaran perjodohan dengan Aira yang dipintakan Ibunya. Walaupun hatinya masih tetap ada bersama Laras, ia tak mau mengecewakan sang ibunda. Pada akhirnya Rijal melamar seorang perempuan—yang sebenarnya sama sekali tak ia cintai.

Ketika dalam situasi itu, ketika lamaran itu sudah terjadi, dengan mengejutkan Laras kembali hadir dalam hidupnya. Bayangan-bayangan itu kembali berputar dalam ingatannya. Disanalah konflik yang sangat kuat terjadi. Pertarungan antara hati untuk mempertahankan Laras dan rasa tak ingin menyakiti Ibu dan perempuan yang sudah dilamarnya.

Dalam situasi hati Rijal yang tak menentu, A Azhar lagi-lagi bermain dengan katanya yang piawai. a Azhar mampu membuat saya kembali merasa dalam posisi dimana hati Rijal sedang kalutnya. Hingga terbesit oleh Rijal akan nasihat yang pernah diberikan almarhum ayahnya

Ia lupa bermusyawarah dengan Allah.

Ia lupa bahwa Allah tak akan memberikan cobaan kepada umat-Nya, melebih dari kesanggupan kita yang memikulnya. Malam itu ia melaksanakan shalat istikharah. Ia mencoba ikhlas untuk melepaskan Laras dan menerima wanita yang dipilihkan Ibunya.

Namun, berkat keikhlasannya tersebut, kejadian yang tak terduga terjadi. Calon istri dan ibunya tiba-tiba merelakannya untuk mencari cinta sejatinya. Pada hari itu juga Rijal terbang ke New Zealand untuk mencari Laras. Ia menjadi percaya bahwa semua ini merupakan buah dari keikhlasan.

Saat Rijal telah sampai di New Zealand, ternyata Laras tidak ada dirumahnya. Rijal teringat pesan bahwa di hari pernikahanan Rijal dan Aira, Laras akan berdo'a dibawah pohon kiwi. Rijal pun bergegas pergi ke tempat itu, dan di bawah pohon kiwi itu Rijal meminang Laras.

Perjuangan Rijal telah berbuah manis. Rijal akhirnya menikah dengan perempuan yang sangat ia cintai. Cinta yang tak hanya sekadar cinta. Cinta karena Allah, cinta yang terpatri tulus di dalam hati. Rasa yang mampu membuat keinginannya menjadi kuat untuk menemui Laras ke luar negeri.


Rijal sudah memilih untuk menjadi tawanan abadi Laras. Hatinya sudah tak mampu lagi keluar dari penjara Laras.


                                     ***


"Bukankah pelangi hanya muncul setelah turun gerimis". A Azhar dalam novelnya

Itulah rencana Allah, tiada satupun yang tahu apa yang akan terjadi esok.

saat Allah mempunyai skenario yang menurut kita tidak menyenangkan, Allah mungkin punya rencana lain, yg lebih baik untuk kita.




*Ulasan ini ditulis di Rs. Islam Asshobirin, Tangerang Selatan.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar