#UntukYusuf Sepenggal kisah yang harus kita (berdua) pelajari

By Nanda Destiyani - September 23, 2016


Bunga, dan Lebah Madu

Khansa S@F

Ada yang bilang “Kenapa Cinta datang pada waktu yang tidak tepat?” mendengar kalimat tadi, apa yang ada dibenak kita? Siapa yang harus disalahkan dalam masalah ini?. Kita pasti pernah merasakan jatuh cinta, ketika cinta menyapa, apakah sapaan cinta itu kita balas? Atau malah kita acuhkan?.

Dikisahkan ada seorang lelaki yang dengan lantang mengutarakan perasaanya kepada seorang wanita, kita sebut wanita itu bunga, dan lebah adalah laki-lakinya.

 Namun sayang, sebenarnya baik laki-laki yang mengutarakan perasaannya dan wanita yang mengetahui perasaan laki-laki itu belum siap menerima kenyataan bahwa perasaan tulus itu datang tapi tidak pada waktu yang tepat. Karena banyaknya godaan, akhirnya wanita itu dengan senang hati menerima perasaan tulus laki-laki itu, dengan alasan  laki-laki itu menjanjikan akan menyempurnakan separuh agamanya bersamanya.

 Setelah lafadz _“ Semoga perasaan ini bukan hanya sebatas perasaan, namun harapanku bisa sampai ke meja ijab kabul bersamamu”_ Terucap,  Laki-laki itupun pergi, bukan karena untuk meninggalkan perasaan tulusnya itu, melainkan pergi untuk terus memperbaiki diri.

Siapa wanita yang tidak terbuai dengan harapan tulusnya itu?. Setelah kejadian itu, hati wanita yang dijanjikan harapan tulus laki-laki itu begitu berbunga-bunga sangat berbunga-bunga.

Semakin berjalannya waktu, godaan itu datang, bukankah satu bunga bukan hanya  dihinggapi oleh satu lebah saja melainkan banyak lebah yang menghinggapinya?, begitupun wanita dalam kisah ini, ada seroang laki-laki yang berniat untuk menikahinya, karena ingat janji tulus itu, dengan lantang wanita itupun menolak laki-laki yang akan menikahinya itu.

Ada banyak laki-laki yang mengajukan untuk menikahinya, namun lagi-lagi dia tolak karena dia tetap teguh mengharapkan laki-laki pertama yang mengutarakan perasaan tulus kepadanya.

 Mengetahui hal itu, dengan memberanikan diri, laki-laki yang mengutarakan perasaan tulusnya berkata kepada wanita itu _“ Setiap laki-laki yang datang, mereka mempunyai hak untuk di istikharahkan, walau memang sebenarnya perasaan tulus itu untukmu, tapi jika Allah takdirkan kita tidak bersatu, ikhlaskanlah,,, maafkan aku yang dulu pernah mengutarakan perasaanku padamu disaat waktu yang belum tepat,,, semoga Allah memberikan keputusan terbaik untuk kita,,, ”_ kata-kata laki-laki itulah yang menyadarkan wanita itu, memang sulit tapi demi mengejar cinta-Nya, akhirnya wanita itu memutuskan untuk menyerahkan semua urusannya kepada-Nya.

 walaupun memang tidak bisa dipungkiri, laki-laki itu sangat mengharapkan  wanita itu, dan wanita itupun juga sangat mengharapkan laki-laki itu juga, namun dengan belajar mengikhlaskan,,, mereka berduapun menyerahkan semuanya kepada Allah.

 Akhirnya wanita itupun menikah dengan pilihan terbaik yang Allah berikan, dan begitupun laki-laki yang mengutarkan perasaan tulus kepada wanita itupun menikah dengan wanita yang Allah pilihkan untuknya.

Memang belajar untuk saling mengikhlaskan solusi yang terbaik, karena dengan begitu, Allah akan mengirimkan keputusan yang terbaik kepada hamban-Nya. Takdir yang Allah berikan kepada hambanya pasti tidak akan merugikan hambanya.

 Adakalanya kita harus  terima bahwa, ada orang yang Allah ciptakan  untuk ada hanya didalam hati kita, tapi bukan ada didalam hidup kita.

Wallahu'alam.


************

Jadi, akankah kisah kita (berdua) seperti itu?
Biarlah Allah yang mengatur semuanya. Tugas kita (berdua) hanya do'a dan ikhtiar :')

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar